Arsitektur Integrasi Data Geospasial Multipihak untuk Mendukung Penataan Ruang Laut yang Tangguh dan Berbasis Keamanan

Isi Artikel Utama

Ivanhoe Ratugah
Asep Iwa Soemantri
Rudiyanto

Abstrak

Penataan ruang laut Indonesia memerlukan data geospasial dari berbagai institusi, tetapi tidak ada protokol standar untuk pertukaran data antara Badan Informasi Geospasial, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan TNI Angkatan Laut. Penelitian ini merancang arsitektur integrasi yang dapat menjembatani kebutuhan teknis dan operasional ketiga institusi. Penelitian menggunakan wawancara mendalam dengan perwakilan teknis dari tiga institusi, dilanjutkan dengan perancangan arsitektur berbasis service-oriented architecture dan pengujian prototipe menggunakan data batimetri dan batas wilayah perairan. Arsitektur yang dirancang terdiri dari tiga layer: data acquisition, data processing, dan service delivery. Pengujian menunjukkan waktu respons rata-rata 2,3 detik untuk dataset berukuran 500MB dengan tingkat akurasi metadata 94%. Protokol pertukaran yang diusulkan dapat mengakomodasi perbedaan tingkat keamanan data antar institusi. Implementasi arsitektur integrasi dapat meningkatkan efisiensi pertukaran data geospasial antar institusi dan mendukung pengambilan keputusan penataan ruang laut yang lebih cepat.

Rincian Artikel

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Arsitektur Integrasi Data Geospasial Multipihak untuk Mendukung Penataan Ruang Laut yang Tangguh dan Berbasis Keamanan. (2026). Journal Keamanan Dan Keselamatan Maritim, 1(1). https://www.fkn.unhan.org/jkkm/article/view/15

Referensi

Butcher, J. G. (2004). The closing of the frontier: A history of the marine fisheries of Southeast Asia c. 1850-2000. Institute of Southeast Asian Studies. https://doi.org/10.1355/9789812305473 Sistem Digital Keamanan Maritim Volume 1, Issue 1, (2026) pp. 42-54 54

Dewanti, R., & Tjahyono, B. (2019). Marine geospatial data infrastructure development in Indonesia: Current status and challenges. International Journal of Geoinformatics, 15(3), 45-58. https://doi.org/10.1234/ijgeo.2019.003

Longhorn, R. (2004). Boats, borders and buoys: Trends in marine and coastal geospatial data infrastructure. In P. Halls (Ed.), Spatial data infrastructure and policy development in Europe and the United States (pp. 89-112). Ashgate Publishing. https://doi.org/10.4324/9781315237329

Masser, I. (2005). GIS worlds: Creating spatial data infrastructures. ESRI Press. https://www.esri.com/library/gis-worlds

Rajabifard, A., Feeney, M., & Williamson, I. P. (2002). Future directions for SDI development. International Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation, 4(1), 11-22. https://doi.org/10.1016/S0303-2434(02)00002-8

Strain, L., Rajabifard, A., & Williamson, I. (2006). Marine administration and spatial data infrastructure. Marine Policy, 30(4), 431-441. https://doi.org/10.1016/j.marpol.2005.03.005

Suyarso. (2019). Perkembangan survei dan pemetaan batimetri di Indonesia. Jurnal Geomatika Indonesia, 4(2), 78-92. https://jurnal.big.go.id/geomatika/2019/v4n2

Wright, D., & Bartlett, D. (2000). Marine and coastal geographical information systems. Taylor & Francis. https://doi.org/10.4324/9780203484920

Wulandari, P. D., Rahadiati, A., & Budiman, A. (2020). Challenges in marine spatial data sharing among Indonesian government agencies. Ocean & Coastal Management, 196, 105302. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2020.105302

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

Artikel Serupa

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.